(Foto : Deen of Geek)
(Foto : Deen of Geek)

BogorNewsCenter.com – Dimana Tuhan…?!!! Teriak Seno. Rasanya sudah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun Seno mencari. Tapi wajah Tuhan tak mau tampak sedikitpun di hadapannya. Seno hampir putus asa. Ingin mati saja rasanya.

Pernah ketika ia masih remaja, seseorang berkata padanya, “ Kalau engkau ingin bertemu Tuhan, baiknya kamu mati terlebih dahulu.” Seno malah bingung. Orang itu didebatnya. Katanya, “Kalau saya harus mati berarti takdir saya memang harus mati. Sedang saya sekarang belum mati dan memang tak ingin mati. Masak saya harus bunuh diri. Kalau saya bunuh diri, berarti saya melawan takdir Tuhan.”

Seseorang itu tak bisa menjawab. Seno jadi sedih. Ia tak ingin melawan pendapat orang. Yang diinginkan hanya jawaban pasti, di mana dirinya bisa bertemu Tuhan. Ia merasa hina, memang. Keingintahuannya sangat naïf, dan mungkin juga berdosa. Tapi, Seno tak bisa mencegahnya. Rasa ingin tahunya muncul begitu saja.

Jangan dikira Seno tak mengerti agama. Keluarganya termasuk agamis. Sejak kanak-kanak Seno telah mempelajari agama. Ketika memilih seorang istri, pilihannya juga tak sembarangan. Istrinya, seorang yang salehah. Anak dari pemuka agama di kampungnya. Hidup mereka pun cukup harmonis dan bahagia. Harta tak pernah kekurangan.

Tapi tiba-tiba, kegelisahan itu muncul. Sekian tahun menjalani hidup keinginan itu muncul. Seno ingin melihat Tuhan. Satu keinginan yang mustahil. Namun Seno nekat mencari. Perjalanan hidup dimulainya kembali. Setiap bertemu seseorang ia bertanya. Pertanyaannya simpel, “Di mana Tuhan?!” Kadang ia memperoleh jawaban, kadang tidak. Tapi, hampir semua jawaban tak memberinya kepastian. Seno semakin gelisah.

Suatu hari Seno bertanya pada seorang guru agama. Jawaban yang di terima sangat sederhana. Yaitu, untuk bisa bertemu Tuhan, kita harus berbuat baik, jangan berbuat dosa. Itu saja. Seno tak puas. Menurutnya, kalau cuma begitu, di buku-buku agama juga sudah banyak ia pelajari. Seno ingin jawaban jelas, dimana Tuhan.

Tak puas dengan jawaban itu Seno mencarinya sendiri. Ia berburu ke perpustakaan. Didatanginya perpustakaan Kodya. Sore itu perpustakaan sepi pengunjung. Hanya ada satu-dua orang saja. Memang selalu begitu. Dari hari ke hari tak ada bedanya. Perpustakaan selalu jauh dari kehidupan kita. Budaya mall dan plaza agaknya lebih terasa denyutnya disini.

Seno duduk di pojok ruangan. Dilahapnya buku-buku yang ada di situ. Mulai dari tulisan Camus, Kafka, Nietsche hingga buku-buku sastra kejawen seperti Serat Centhini atau Gatholoco. Hasilnya nihil. Tak satupun buku yang bisa menjawab kegelisahannya. Bahkan ia gusar dengan pendapat Nietsche yang mengatakan bahwa Tuhan telah mati, God is dead! Begitu tulis Nietsche di salah satu bukunya. Seno tak percaya. Menurutnya, Tuhan tak pernah mati. Tapi, dimana Ia berada.

Bosan di perpustakaan Seno menghambur keluar. Kakinya dibiarkan melangkah tanpa tujuan. Ia semakin penasaran, dimana sesungguhnya Tuhan berada. Kalau tuhan-tuhan palsu sih banyak. Bahkan saking banyaknya, Seno sering melihat Paino, tetangganya yang juragan angkot, punya tuhan sendiri. Berlembar-lembar jumlahnya. Paino amat bergantung pada lembar-lembar itu.

Setiap pagi Paino tekun menghitung lembar-lembar itu. Kehilangan satu lembar Paino jadi gelisah dan blingsatan. Hidup Paino memang tak bisa lepas dari lembar-lembar uang miliknya. Uang bagi Paino adalah segalanya. Anak-anaknya pun jadi terbiasa hidup enak dan mewah. Uang seolah menjadi tuhan bagi Paino dan keluarga.

Lain lagi dengan Mbah Kromo. Manusia satu ini sudah cukup tua. Umurnya, menurut taksiran orang-orang, mencapai 110 tahun. Antara Paino dan Mbah Kromo tuhannya berbeda. Paino tuhannya berlembar-lembar, sementara tuhan Mbah Kromo adalah benda-benda ajaib yang katanya di dapat dari hasil tirakatnya ke berbagai pelosok daerah semasa mudanya dulu. Konon, berkat benda-benda ajaib nan keramat itu hidup beliau selalu selamat dan berkecukupan.

Malam hari Seno tafakur sendirian di rumah. Benar-benar sendiri karena anak-istrinya minggat, pulang ke rumah orangtuanya. Istrinya tak tahan melihat kelakuan Seno. Berkali-kali istrinya menggugat dan mengata-ngatai kalau Seno gila, sinting, edan, pokoknya semua istilah yang sejenis dengan itu melekat pada dirinya.

Kata istrinya, “Lebih baik kakang mencari kerja. Dapat duit. Bisa kasih uang belanja ke saya. Jangan seperti ini, gelisah, edan, sontoloyo, mbingungi kesana-kemari. Tanya yang enggak-enggak. Tuhan itu tidak dimana-mana, Kang! Tuhan itu ada di hati kita. Pak Kyai kan pernah bilang, Tuhan itu senantiasa dekat dengan kita kalau kita mau mendekat pada-Nya.”

Mendengar istrinya merepet begitu Seno memilih diam. Apa yang dikatakan istrinya seratus persen tak salah. Jadi tak perlu di debat. Tapi, kegelisahan kok terus memburunya. Apa jadinya kalau kegelisahannya tak dituruti. Apa jadinya bila ia hanya diam menunggu. Mungkin ia akan benar-benar gila.

Di tengah kesendiriannya –karena anak-istrinya minggat- Seno akan konsentrasi mencari Tuhan. Dikumpulkannya semua jawaban yang didapatkannya kemarin. Memorinya kembali mengingat-ingat. Kalau kamu ingin bertemu Tuhan baiknya kamu mati. Kalimat ini yang akhirnya berdenyar-denyar di kepalanya.

“Baik, kalau aku harus mati, aku siap mati!”  Seno bertekat. Seno lalu sibuk mencari cara untuk mati. Dikumpulkannya benda-benda yang dapat menolongnya menemui kematian. Pisau, silet, pistol, racun, cairan pembunuh serangga, semua ditumpuknya di atas meja. Seno mengkalkulasi yang mana kiranya yang dapat memberinya kenyamanan dalam perjalanannya menuju kematian.

Seno memulainya dari pisau. Lempengan tajam mengkilat itu diraba-rabanya. Seno berusaha meresapi, seperti apa rasanya bila benda tajam tersebut mengiris urat nadinya. Atau memutus urat lehernya. Darah akan muncrat keluar, mengalir kemana-mana. Di atas meja dan juga berceceran di lantai. Ia akan sekarat. Sakit. Seno ngeri membayangkan tubuhnya terkapar di atas ceceran darahnya sendiri. Ia jadi takut. “Tidak! Saya tidak mau memakai pisau,” gumamnya.

Pisau disingkirkan. Begitupun dengan silet. Ia pun takut menggunakan silet. Pisau dan silet tak ada bedanya. Niatnya kemudian beralih pada pistol. Benda itu ditimang-timang. Digenggam erat pada gagangnya. Telunjuknya diletakkan di pelatuk. Moncong pistol segera diarahkan ke pelipis kanannya. Seno siap meledakkkan kepalanya sendiri. Matanya berkedip-kedip. Seno berpikir dan menghayati. Bila benda ini meledak, kepalanya pun akan meledak. Isi otaknya akan berhamburan kemana-mana. Iiiihhh…!!! Seno tak tega membayangkan.

“Tidak…, saya tidak ingin memakai pistol. Dilemparnya benda tersebut, telak menghantam kaca jendela. Kaca pecah berderai dan pistol melesat keluar. Jatuh di halaman. Seno ngos-ngosan. Nafasnya tak teratur. Masih ada alternatif lain untuk menemui kematian. Tapi kini Seno tak mau gegabah. Diamati benda-benda yang masih tergeletak dihadapannya. Tinggal racun dan cairan pembunuh serangga.

Seno bingung memilih. Racun dan cairan pembunuh serangga tak jauh berbeda. Tuang di gelas lalu reguk. Dalam waktu sekian detik ia akan meregang nyawa. Tapi Seno tetap tak berani. Mati dengan cara menenggak racun tak memberinya kenyamanan. Lidahnya akan panas terbakar. Tenggorokannya akan terasa kering. Tidak, ia tidak mau merasakan siksaaan seperti itu. Seno memejamkan mata. Punah sudah semangatnya untuk mati. Matipun ternyata sulit.

Tetapi, dimana bisa menemui Tuhan. Pertanyaan ini terus mengurung Seno. Menggema di sekelilingnya. Di dinding-dinding rumah, di lantai, di langit-langit, merasuk ke pikirannya, menyelusup ke jiwanya.

Dan, ketika kegelisahannya terus memuncak, ketika ketakberdayaan mengurung dirinya, Seno justru berhasrat untuk memberontak. Sampai kapanpun ia akan mencari jawaban.

Sejak kejadian malam itu, malam dimana ia ingin mati, Seno jadi rajin menulis. Apa saja dan dimana saja ia menulis. Berlembar-lembar kertas penuh coretan ungkapan perasaannya. Bentuk tulisannya pun macam-macam. Ada puisi, prosa bahkan surat. Terakhir, ia menulis surat yang ditujukan kepada Presiden, ulama, kyai, pastor, pendeta, biksu, tokoh-tokoh masyarakat, organisasi-organisasi politik, ormas-ormas. Semua surat isinya sama. Intinya, mencari jawaban atas kegelisahannya selama ini.

Suratnya cukup singkat. Seno menulis begini : Kepada Yth. (disesuaikan dengan alamat yang dituju) Dengan hormat. Dengan surat ini saya ingin bertanya, dimana saya bisa menemui Tuhan. Saya dengar Negara kita katanya Negara ber-Tuhan, tapi kok selalu saja banyak pertengkaran, bunuh-bunuhan, bom-boman, tilep-menilep, tipu-menipu dan korupsi dimana-mana. Tolong saya di beri jawaban yang pasti. Hormat saya. (Kemudian Seno menandatangani)

Beberapa bulan kemudian Seno menerima balasan. Alamat pengirim tak jelas. Seno tak bisa mengira-ngira, dari mana surat balasan itu datang. Tapi isinya cukup memberi harapan. Isi surat pendek, tertulis begini : Kalau kamu ingin menemui Tuhan, datanglah ke ibukota..!! Seno tercengang. Jadi di ibukota ada Tuhan. Seno girang. Sebentar lagi ia akan melihat Tuhan.

Tapi Seno bingung. Kemana ia harus pergi. Ibukota kan cukup luas. Sementara si pengirim tak memberi alamat yang jelas. Namun, berhubung tekadnya yang membara, Seno tak peduli. Pokoknya ia harus datang. Kebetulan istrinya tak pulang-pulang.

Seno jadi bertambah kagum terhadap ibukota. Di sana ternyata apa saja ada. Gedung-gedung pencakar langit, mobil-mobil mewah, diskotik, hotel-hotel, rumah presiden, rumah menteri dan kini Tuhan. Fantastik! Ibukota memang segala-galanya.

Hari hampir pagi ketika Seno menjejakkan kaki di stasiun Jatinegara. Keluar dari gerbang stasiun puluhan calo langsung menyergap dirinya, menawarkan berbagai tumpangan. Taksi gelap, taksi resmi, bajaj, angkot, semua kendaraan ditawarkan ke berbagai jurusan. Seno tak berminat. Lagipula ia pun tak tahu kemana tujuan  kepergiannya. Niatnya ke ibukota hanya satu, bertemu Tuhan. Dan, apakah calo-calo itu tahu dimana Tuhan berada.

Kakinya melangkah sembarangan. Kemanapun arahnya Seno tak peduli. Hari mulai terasa denyutnya disini. Meski jarum jam masih menunjukkan angka lima, kendaraan dan manusia sama sibuknya. Ber-sliweran, lalu-lalang mengejar rejeki hari ini. Seno terus melangkah. Menyusuri trotoar jalan. Ia menyaksikan orang-orang begitu sibuk. Berlarian kian-kemari, tabrak sana, tabrak sini. Mengejar kendaraan umum yang berhenti sembarangan.Tapi, semuanya tak peduli.

Capai berjalan, Seno mencegat mikrolet. Hop! Ia melompat, lenyap ke dalam mikrolet. Duduk tenang di belakang Pak Sopir. Hari kian terang. Kesibukan makin menggila. Jalan-jalan mulai macet. Mikrolet yang ditumpanginya bergerak tersendat-sendat. Seno jadi tak sabar. Badannya terasa gerah. Belum lagi suara-suara klakson yang memekakkan telinga. Semua membuat gusar hatinya. Keyakinannya goyah. Apakah mungkin ia bertemu Tuhan di tempat seperti ini.

Di terminal pasar Senen, Seno turun. Tubuhnya lunglai. Semangatnya kian menyusut. Panas matahari mulai memanggang dirinya. Butir-butir keringat berlelehan di dahi dan sekujur tubuhnya. Keluar dari terminal Senen, Seno berjalan menyusuri Proyek Senen. Kemudian menyeberang, masuk sebuah Plaza.

Dalam plaza Seno mondar-mandir tak keruan. Orang-orang Jakarta mulai bertumpuk di sini. Ada yang sekedar cuci muka, tapi ada juga yang memang berniat menghamburkan uangnya. Belanja ini-itu.

Lelah berputar-putar di dalam Seno keluar. Ia tak yakin kalau Tuhan ada di tempat seperti itu. Kerongkongannya kering. Perutnya juga lapar. Seno tersadar, perutnya memang belum diisi dari tadi malam. Tapi ia tetap meneguhkan hati. Semestinya orang yang ingin bertemu Tuhan harus bisa menahan lapar dan dahaga.

Seno jadi malu pada dirinya sendiri. Semangatnya bangkit kembali. Ia percaya Tuhan pasti mengasihi dirinya. Keinginannya bertemu Tuhan justru dikarenakan hal itu. Seno melangkah, berjalan kemana saja.

Sementara itu hari semakin siang. Sungguh cepat. Sungguh cepat waktu berlalu. Tapi Seno belum juga mendapatkan apa yang dicarinya. Kegelisahannya memuncak. Sambil berjalan ia pandangi orang-orang yang lalang di sekitarnya. Semuanya terlihat bahagia. Itu jelas tercermin dari sikap dan semangat mereka menyongsong hari ini.

Tukang parkir, penjaja kios rokok, asongan, tukang sapu jalan, semua bersemangat. Seno jadi bertanya-tanya di dalam hati, mungkinkah mereka telah bertemu Tuhan di kota besar ini. Mungkinkah Tuhan telah menyapa mereka, karena kerja ikhlas mereka dalam mencari rejeki-Nya. Mungkinkah Tuhan berkenan hadir di tengah-tengah orang-orang itu.

Berjalan sekian langkah kakinya ingin istirahat. Seno lalu duduk di samping kios rokok. Si penjaja, seorang perempuan setengah baya, tertidur di dalam gerobak kiosnya. Dasternya tersingkap di bagian dada. Payudaranya yang menggelembung padat bebas terbuka. Putih dengan putting kemerahan. Rupanya perempuan itu habis menyusui. Bayinya tertidur tenang di pelukan sang ibu. Seno terpesona memandang wajah bayi itu.

Mata Seno mulai terasa berat. Ia mengantuk, tapi ditahannya, karena ia masih ingin memandang wajah bayi itu. Seno tercekat dan takjub. Ia seperti melihat wajah Tuhan disitu. Tergambar di wajah si bayi. Seno hampir tak percaya. Dan ia memang sulit percaya, seperti apa wajah Tuhan sesungguhnya. Tapi, di wajah bayi itu, ia melihat sesuatu yang maha, yang bersih. Jadi, Seno mengerti….

“Dan sejak itu Kakang tak pernah pulang. Ia hanya berkirim surat sekali. Di suratnya ia mengatakan bahwa dirinya ingin menjadi bayi, agar bisa bertemu Tuhan. Menurutnya, kalau ingin ketemu Tuhan kita harus lahir kembali seperti bayi. Begitu katanya.” Wanita itu terisak mengakhiri kisahnya. Ia tak mengerti dimana kini suaminya berada. Aku terdiam. Takjub dan merasa lapar.

Penulis : Bagus Sidi Pramudya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here