Mengingat ibu // aku melihat janji baik kehidupan. // Mendengar suara ibu, // aku percaya akan kebaikan manusia. // Melihat foto ibu, // aku mewarisi naluri kejadian alam semesta. // Berbicara dengan kamu, saudara-saudaraku, // aku pun ingat kamu juga punya ibu. // Aku jabat tanganmu, // aku peluk kamu di dalam persahabatan. // Kita tidak ingin saling menyakitkan hati, // agar kita tidak saling menghina ibu kita masing-masing // yang selalu, bagai bumi, air dan langit, // membela kita dengan kewajaran…..

(Sajak Ibunda, WS Rendra, 1977)

 

BogorNewsCenter.com – Rendra begitu mulia dan agung menggambarkan sosok seorang ibu. Dalam cuplikan sajaknya di atas penyair yang dijuluki Sang Burung Merak itu menegaskan bahwa sosok ibu adalah pemelihara dan penjaga kehidupan ini. Sosok ibu merupakan sosok kebaikan yang mewakili alam semesta, seperti bumi, air, langit dan selalu melindungi serta membela anak-anaknya. Demikianlah potret ibu. Rendra sangat pas melukiskannya.

Setiap orang pasti mempunyai ibu, dan seorang ibu jelas memiliki anak-anak. Bagi seorang ibu anak tetaplah anak, walaupun sang anak telah dewasa dan memiliki keluarga. Anak yang telah pergi dari rumah dan membangun rumah tangga sendiri tetap dinanti untuk kembali pulang. Penantian yang bisa juga menjadi doa agar anak-anaknya selamat. Bukankah kasih ibu sepanjang masa. Doanya akan terus mengalir menjaga putra-putrinya.

Potret ibu yang menanti dan merindu anaknya agar pulang menjadi tema menarik dalam pentas monolog Dunia Ibu diperingatan Hari Ibu Bulan Desember kemarin. Secara ringkas monolog Dunia Ibu mengisahkan seorang Ibu yang hidup sendiri, anak-anaknya sudah besar dan merantau. Saat itu si anak sulung berkata hendak pulang. Si Ibu sangat gembira dan bermaksud memasakkan masakan kesukaan anaknya tersebut. Si ibu bergegas ke pasar untuk membeli bahan makanan kesukaan anaknya itu.

Anaknya ternyata tak jadi datang. Si ibu sedih, lalu teringat almarhum suaminya yang seorang seniman. Si Ibu sendiri hidup dari dunia seni dan penulis. Hingga kemudian bertutur tentang nostalgia dengan almarhum suaminya dan masa lalunya. Pentas diakhiri dengan tembang Jawa Ta’ Lelo Ledung, tembang kenangan saat menggendong dan menidurkan anaknya dulu sewaktu bayi.

Pentas monolog Dunia Ibu adalah perasaan perempuan yang telah menjadi ibu. Kepada anaknya, dimanapun berada, sang ibu selalu menunggu kapanpun sang anak akan pulang. Menjadi perempuan adalah takdir dan menjadi ibu adalah pilihan mulia. Sebab, ibu adalah penjaga anak-anaknya, pembela anak-anaknya dan ibu selalu memaklumi prilaku anak-anaknya. Demikian pula yang digambarkan dari pentas monolog Dunia Ibu, ketika sang anak tak jadi pulang, sang ibu pun maklum, meski ada kesedihan juga di hatinya.

Monolog Dunia Ibu dibawakan oleh Dewi Maharani Soetego, seorang seniman wanita yang tak hanya piawai di dunia peran/teater tapi juga menjadi penulis skenario film/TV, menulis buku, cerpen dan puisi. Naskah Dunia Ibu merupakan karya dan sutradara Herlina Syarifudin, sedang pengiring tembang digawangi oleh Mawar Jingga Rindukan Damai.

Selain monolog Dunia Ibu pentas juga menampilkan reportoar lain, yakni monolog Red Shoes, dibawakan oleh Kerensa Dewantoro, yang juga sebagai penulis naskahnya dan sutradara. Berbeda dengan Dunia Ibu, yang secara spesifik bertutur tentang seorang ibu, Red Shoes menceritakan dunia perempuan secara luas.

Dalam Red Shoes dikisahkan sosok wanita muda yang aktif di lorong-lorong kota di malam hari, dengan mengenakan sepasang Red Shoes. Ia bergerak kesana dan kemari, mengisahkan kepada dunia tentang siapa dirinya, yang tampak bahagia dalam glamouritas kehidupan malam, tapi sesungguhnya yatim-piatu, ditikam kesedihan yang dalam. Khususnya karena ia tak bisa lepas dari ‘arahan’ sepatunya untuk terus menari dan menari.

“Harus ada keberanian untuk mengakhiri semua ini,” kata Karensa. “Jangan mau terjebak pada rutinitas yang sebenarnya tak kita kehendaki.” Karensa tertawa, menangis dan tertawa. Klimaksnya, ia copot sepasang sepatu highheels warna merah itu, ia campakkan ke tengah jalan, dan ia coba menjadi dirinya sendiri.

Sebuah pesan dari monolog Red Shoes bahwa jika ingin ada perubahan kita harus berani memulai. Berani meninggalkan sesuatu yang sesungguhnya semu, meskipun kita menyukainya. Jangan mau terbelenggu oleh yang bukan diri kita, dan cobalah menjadi diri sendiri.

Pentas monolog Dunia Ibu dan Red Shoes digagas dan dipersembahkan oleh kelompok yang menamakan dirinya Woman On Stage (WOS). Digelar dalam rangka memperingati Hari Ibu 22 Desember 2019 di Waroeng Kopi Limo, Kota Depok pada tanggal 28 Desember 2019 lalu.

Selain pentas monolog acara diisi pula oleh diskusi tentang Problematika Perempuan dalam Berkesenian dengan narasumber Annie Rai Samoen, Live Painting menghadirkan pembatik Nur Malichah Agustin, hiburan lain seperti happening art, musik, permainan tradisional dan mini bazaar.

Kelompok WOS merupakan kelompok kreatif berkesenian yang selalu mengangkat isu-isu perempuan. Dalam “kredo” yang tertulis di latar belakang kegiatan mereka mengistilahkan memanjakan perempuan dalam artian positif, atau melibatkan perempuan baik langsung maupun  tidak langsung, dari kegiatan-kegiatan nasional dan resmi tertulis didalam kalender tahunan seperti Hari Kartini, Hari Ibu, hari peringatan yang diakui dunia tapi tidak tertuang didalam kalender tahunan, seperti Hari Air Bersih se-Dunia, Hari Aids se-Dunia, Hari Kesehatan se-Dunia dan lain-lain.

Dalam jagat kesenian ada sebagian perempuan enerjik berpotensial menuju puncak berkesenian atau berkesusastraan tapi dilematis karena juga harus berbagi peran dirinya sebagai perempuan, yang “harus” menjaga anak, mengurusi rumah dan sebagainya.

Berangkat dari situasi demikian dan sekaligus membukakan jalan serta mengubah mindset atau paradigma lingkungan kecil maupun besar atas peluang peran perempuan didalam berkesusastraan dan berkesenian terbentuklah wahana Woman On Stage (WOS), suatu nama yang memiliki makna yang mencerahkan perempuan kreatif sebagai kepanjangan dari harapan dan kenyataan yang ingin dicapai.

Wahana Woman On Stage memiliki ruang lingkup besar atau highlight, dimana Woman sebagai Visi wahana menjadikan panggung berkesusastraan atau berkesenian berwawasan dunia. On Stage sebagai misi yang menjadikan WOS bermisi memperkenalkan dan menjadikan perempuan yangmampu mengaktualisasikan dirinya dalam menyikapi hal-hal baru sepanjang hayat melalui karya seni tanpa meninggalkan kodratnya sebagai perempuan dengan fungsi kesehariannya.

Di dalam kiprah dan karya-karyanya WOS bertujuan antara lain, untuk menggali potensi perempuan di bidang kesenian, mengarahkan potensi perempuan dalam berkesenian, mewadahi proses berkesenian perempuan, memberi motivasi pada perempuan untuk memaksimalkan potensi dirinya dalam berkesenian tanpa meninggalkan kodratnya sebagai perempuan, dan, yang lebih penting lagi melakukan data base pelaku seni perempuan di Indonesia khususnya, dan harapannya bisa menjangkau ke seluruh dunia.

Kehadiran WOS di kancah kesenian tanah air tentu bisa menjadi ladang harapan bagi pelaku seni perempuan. Dunia seni (tanah air) suka atau tak suka, setuju atau tak setuju, masih dianggap “milik” kaum laki-laki. Pelaku seni perempuan berikut karyanya yang mewakili keperempuannya masih sedikit gaungnya.

Kehadiran WOS dengan monolog Dunia Ibu dan Red Shoes-nya setidaknya dapat mewakili gaung yang masih sedikit itu. Semoga langkah kecil yang dilakukan oleh WOS bisa menjadi pemicu dan penyemangat pelaku seni perempuan untuk berkarya dan saling berbagi pengalaman dalam dunia kesenian. Semoga.

Penulis : Bagus Sidi Pramudya 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here