BogorNewsCenter.com“Catatan Kecil Untuk GARBI,” begitulah kalimat yang diucapkan oleh Wandi Awan Djanuar atau yang lebih akrab dipanggil Awan.

“GARBI merupakan representasi sebuah gerakan intelektual yang berbasis sosial dan ekonomi kerakyatan mampu menunjukan kontribusinya kepada masyarakat demi mewujudkan kemajuan Indonesia sebagai kekuatan kelima dunia,” ucap Awan, Sekjen Karang Taruna Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor ini saat ditemui BogorNewsCenter di Desa Cimandala Kabupaten Bogor, Sabtu, 3 Agustus 2019.

Awan melihat pergerakan GARBI (Gerakan Arah Baru Indonesia) begitu masif dan cukup tersetruktur, khususnya di “Bumi Tegar Beriman” Kabupaten Bogor.

“Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) melesat bagaikan roket yang menembus ruang dan waktu. Berawal dari sebuah narasi, GARBI bertansformasi menjadi sebuah gerakan dengan cara pandang baru, yang lebih Genuine, Modern, Optimis dan Milenial. Dengan cara pandang baru tersebut, GARBI ingin menyampaikan pesan harapan dan optimisme kepada bangsa Indonesia,” lanjutnya.

Visi GARBI bertujuan mewadahi ide gerak anak bangsa untuk mewujudkan kemajuan Indonesia sebagai kekuatan ke-5 dunia, yang bertumpu pada kekuatan Kemandirian, Kemodernan dan Keindonesiaan di semua bidang, seperti, bidang Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Teknologi dan Militer.

Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) lahir dari sebuah fenomena dan dinamika kehidupan yang kian berubah setiap zamannya, sehingga mengharuskan para inisiator GARBI untuk selalu siap menjawab tantangan zaman. Kekuatan GARBI adalah kekuatan ide, gagasan, retorika dan realita kehidupan, yang sedikit banyaknya pernah diarungi oleh para pendirinya.

Berbekal ide, gagasan, retorika dan pengalaman itulah yang selanjutnya mambentuk partel-partikel kecil sehingga menjadi sebuah Gerakan Arah Baru Indonesia yang dinamakan GARBI, hingga saat ini sudah menyebar di seluruh pelosok Nusantara.

Anis Matta, Fahri Hamzah dan Mahfudz Siddiq merupakan inisiator sekaligus deklarator Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI).

GARBI yang pernah diisukan sebagai sempalan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akhirnya tidak terbukti, karena tidak cukup kuat data yang menyebutkan terkait hal itu. Meskipun Anis Matta dan para loyalisnya merupakan eks kader PKS, tetapi mereka memiliki pandangan dan orientasi politik yang sangat berbeda jauh dengan PKS saat ini.

Hal ini dibuktikan dengan sebuah kerangka berfikir logis, bertumpu pada kekuatan intelektual yang mengedepankan sisi Humanisme, Nasionalisme, Egaliterianisme dan pendekatan emosional secara masif kepada masyarakat sipil melalui gerakan kemandirian secara ekonomi. Melalui gerakan kemandirian, GARBI mengajak masyarakat untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang berdaulat, adil, sejahtera dan beradab, dengan mengusung tagline “Islam, Nasionalisme, Demokrasi dan Kesejahteraan”.

Menurut para founder GARBI, tagline tersebut merupakan representasi dari nilai-nilai kehidupan rakyat Indonesia, karena Indonesia yang terdiri dari banyak suku, bahasa dan agama, tidak bisa dijadikan sebuah legitimasi alasan untuk mengedepankan ego pribadi maupun kelompok yang akan menimbulkan perpecahan. Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika merupakan hasil final dari sebuah perumusan yang lahir dari sebuah ide, gagasan dan realita kehidupan bangsa Indonesia.

“Hakikat dari tagline GARBI (Islam, Nasionalisme, Demokrasi dan Kesejahteraan) tersebut memiliki arti serta makna Persatuan dan Kemajuan. Islam yang bermakna Nilai dan Orientasi Hidup, Nasionalisme yang berarti Jati Diri Bangsa Indonesia, Demokrasi merupakan hak azasi secara personal maupun kelompok, atas tata kelola kebebasan berpendapat dan berserikat secara politis yang di jamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan poin ke empat dalam isi Pancasila. Sedangkan Kesejahteraan merupakan sebuah pencapaian final yang didasari atas perjuangan dan usaha bersama dalam mewujudkan pemerataan pembangunan, pendidikan, kesehatan serta keadilan sosial. Empat values tersebut merupakan indeks yang dijunjung tinggi oleh GARBI,” papar Awan alumni Study of Philosophy of Politics State, Religion and Civilization, Paramadina University.

“Pengurus maupun anggota GARBI wajib memiliki kecerdasan berfikir, kepekaan sosial, kreatif, bermoral dan berkemajuan, yang dimaksudkan sebagai cerminan moralitas manusia berakal dan beradab. Sistem pengkaderan GARBI mengedepankan sisi humanis, hal ini bertujuan untuk menciptakan generasi yang independent, inklusif, matang secara leadership maupun enterpeuneurship, sehingga dimasa yang akan datang mampu menciptakan sebuah sistem kepemimpinan terbuka, demokrasi egaliter, jujur, adil, religius, modern dan partisipatif,” Ujar pria yang juga pernah duduk sebagai sekretaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Cimandala Kabupaten Bogor.


 

Penulis : Troyawan

Editor : Shiny Ane

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here