Di rentang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan,
sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan
Di gigir yang curam dan dunia tertinggal, gelap membeku, Sungguh,
peta melesap dan udara yang terbakar, jauh

Kita adalah sepasang kekasih
yang pertama bercinta di luar angkasa

Seperti takkan pernah pulang
kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
Seperti takkan pernah pulang, ketuk langkahmu
menarilah di jauh muka

Jalan pulang yang menghilang, tertulis dan menghilang,
karena kita, sebab kita, telah bercinta di luar angkasa

(Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa, Frau)

Mungkin tak semua orang tahu, di rentang waktu yang berjejal dan memburai, di cahaya yang menghempas dan di udara yang terbakar, di situ tak terdapat sebuah batas antara angkasa dan apa yang ada di luarnya, sebab, di situlah juga angkasa terdapat.

Mungkin pula, begitu banyak orang yang memang terlalu sibuk oleh rutinitas sehari-hari yang membosankan, yang menarik dan menghisap-habiskan seluruh energi kehidupan yang mereka punya, sehingga ia cepat-cepat melemparkan pandangannya, membayangkan kepada kehidupan yang jauh berada di atas sana.

Namun, sebagaimana seseorang yang melemparkan sesuatu dalam keadaan jiwa yang gundah, melemparkan umumnya pandangan dengan sembarang saja, seperti melemparkan sebuah batu kepada sebuah genangan danau yang mudah merinding, danau yang mudah mengantarkan gelombangnya.

Sebagian dari mereka tentu menyadari, memang tujuannya bukanlah pada letak dan arahnya itu sendiri, tetapi pada keinginannya untuk keluar dari apa yang dialami, dan agar semua orang tahu, ada di sana, di asal-usul sebuah gelombang.

Oleh karenanya, begitu juga pada sebuah puisi, atau sebuah puisi yang hendak dinyanyikan untuk menyegarkan jiwa, seringkali di dalamnya terdapat kegagalan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, meskipun begitu kuat yang dipantulkan dari bait-bait yang disusunya: sebuah bahasa yang bisu, dan tak diucapkan.

Oleh karenanya pula, tak jarang kita memerlukan sebuah penjalasan lain untuk sampai ke sana, yang tak jarang mesti dilakukan dari mempertanyakan, meragukan, bahkan menyangkal terhadap apapun ungkapan yang diucapkannya; lalu menuliskan ulang dengan hal yang lain.

Kepada Frau: Sepasang Kekasih yang Bercinta di Bawah Angkasa

telah berapa milyar kita melakukan
tahun perjalanan saling menemukan
dan saling menghancurkan kita telah
bercinta dengan segala sakit
di atas sana

tanpa ada yang melihat?

telah berapa milyar kita melakukan?
tahun perjalanan saling merindukan
dengan jari-jari yang terbuka
yang renggang jiwa

dan kini kita jatuh di sepasang
tubuh yang kaku dan senyap, dingin
dan rekat namun perjalanan yang sama
dalam udara terasa tetap begitu jauh
dalam nama-nama tertulis dan kata-kata
dalam dekap, kita

sepasang kekasih yang bercinta
di bawah bayang angkasa
yang pertama, yang cerang
terhempas lesat dan cahaya, kitasepasang kekasih yang bercintadi bawah angkasayang pertama, yang hilang,yang takkan pernah dapat lagi pulangke sana?

(Desember, 2018  _Shiny.ane el’poesya)

_____________

Penulis : Shiny,ane elpoesya
Kurator : Shiny.ane

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here