Malam itu, penuh cahaya warna-warni berhamburan; Berhamburan bagaikan terang Penciptaan.  Lampu-lampu berkilauan. Sorotnya melintasi gelap bergantian: merah, biru, ungu, kuning, hijau, putih, merah, biru hijau merah kuning putih… . Namun, malam itu sekaligus semua terlihat begitu semu seperti tak pernah terjadi sama sekali Penciptaan apapun itu.

Hidangan yang telah kehilangan para tamu pestanya. Perjamuan yang hanya menyisakan sisa-sisa jambaran yang berantakan dan menjijikkan bertebaran di mana-mana.

Malam itu adalah malam di mana seperti harapan dan kehancuran diaduk-aduk menjadi satu ke dalam sebuah mesin giling yang ukurannya menelan kota-kota metropolis sepanjang tahun demi tahun, dan, bahkan menandingi kemegahan seisi dunia kehidupan itu sendiri.

Malam itu seperti semua yang ada di langit seakan ditumpahkan. Semua yang ada di bumi diterbangkan. Di mana seluruh kunci-kunci ketenangan dilepas dan riuh dimuntah-muntahkan.

Malam itu. Ya… malam itu aku mabuk berat, mabuk penat, mabuk pekat  sehingga begitu bising di  akhir dan kaki perjalanan. Tak dapat lagi menjelaskan dengan benar apapun yang terjadi. Tak dapat melangkah lagi dengan benar, kecuali, aku mengetahui bahwa aku melihat seorang gadis meraih tubuhku setelah aku mengeluarkan seluruh isi perutku sesaat sebelum tersungkur: REMUK!

***

“Sekarang kamu sudah bangun? Nyenyak sekali tidurnya.”

Aku tak menjawab sepatah kata pun. Mungkin sebab masih kebingungan. Atau memang saat itu kepalaku masih terasa penat dan belum sepenuhnya sadar.

Bayi yang baru terlahir, ya … bayi yang baru terlahir dari alam yang lain yang tak dapat mengenal apapun lagi.

“Bangun sana. Cuci muka terus makan. Itu sudah aku buatkan nasi bubur dan sup,” tambahnya. Sambil menyalakan rokok dan duduk bersandar di samping pintu.

Kehidupan  makin nampak seperti sebuah cermin, yang berdiri dan memantul-mantulkan cahaya yang retak sebelum menyentuhnya. Cahaya itu memantul-mantul dengan begitu cepat sepanjang detik dan aku hanya mencoba menangkapnya dengan cara yang bahkan tak bertujuan sama sekali.

“Di mana ini?” Tanyaku.

“Di kosan.”

“K…osan?”

“Iya, di kosanku. Sudah bangun sana. Nanti aku ceritakan.”

Cahaya itu masih memantul-mantul dan aku masih mencoba menangkapnya dengan sembarang.  Hingga aku tak peduli apa yang sebenarnya aku tangkap. Dan semakin aku menangkapnya, semakin terlihat begitu buram. Ya, semakin buram dan redup. Apakah ini kehidupan yang sesungguhnya? tanyaku dalam hati.

“Kenapa diam saja? Masih belum sadar? Habis minum berapa banyak sih semalem?”

“… …”

“Gak dijawab.”

“… …”

“Hmmmph … Apa boleh buat.”

“Baju…??”

“Aku yang ganti. Kenapa, masalah?”

“… …”

“Gak mau jawab lagi?”

“Gak … gak apa-apa.”

Sepi. Sepi sekali waktu itu kutatap tubuhnya yang masih bersandar. Seakan terdengar suara detak jantungnya yang berdegup pelan. Nafasnya yang perlahan, yang sesekali keluar dari bibirnya yang kaku gemetar.

“Maaf bajumu kuganti. Dan tubuhmu kusentuh. Tapi jangan salah faham. Aku gak lakukan apa-apa. Hanya itu.”

“Iya.. Gak apa. Gak apa.”

“Bajumu basah, kotor dan bau. Kalau tak diganti bisa jadi penyakit.”

Aku masih mencoba memperhatikan seisi ruangan yang hanya berukuran tiga kali empat, yang tak dipenuhi apapun kecuali oleh sebuah lemari baju, beberapa foto berbingkai dan meja rias mungil yang teletak persis di depan kasur. Aku masih mengait-ngaitkannya satu persatu.

“Tak ada apapun di sini. Ini bukan kamar seorang putri. Tak ada hayalan. Tak ada mimpi di sini.”

“Itu, foto…” Foto yang seakan memotret hari yang sama. Rambutnya yang pendek sebahu, matanya yang tajam, alisnya yang tipis dan meruncing, namun hitamnya yang kecoklatan membuatnya terlihat lebih sayu.  “… mu?”

“Iya, waktu masih SD.”

“… …”

“Kenapa?”

Ia duduk dengan celana di atas paha dan kaus tank top putih tanpa sedikitpun rikuh.

“Tak apa-apa. Kenapa pajang foto…”

“Masih SD? Pengennya sih pasang foto bareng temen-temen kuliahan.”

Kesekian kalinya, ia mengepulkan asap rokok ke arah luar pintu.

“… …”

“Aku putus sekolah sejak SD.”

“… …”

“Diam lagi. Kenapa? Masalah?”

“Gak apa-apa kok. Ga apa-apa.”

“… …” [Terdiam]

“Aku putus sekolah waktu kelas empat SD karena ayahku tak membelikan sepatuku yang sudah rusak. Hampir satu tahun banyak teman-teman mengejekku. Aku tak tahan. Aku keluar dari sekolah.”

“Udah sana cuci muka. Kalau malas, itu pake tisu basah di situ. Ada di atas meja. Terus makan buburnya. Biar ada tenaga,” usainya.

“Iya …”

Meski badan masih terasa berat, seberat suara serak detik jam hari itu, tetapi perlahan aku coba untuk tetap bangkit dan bergerak.

“Baju kamu semalam aku rendam. Tapi aku malas nyuci. Paling nanti sore baru aku cuci. Kita, maksudnya kamu di sini aja dulu sampai besok. Lagian badan kamu masih panas juga, kan?”

“Iya, ga apa-apa,” jawabku setengah terbata dan terbatuk. “Maaf,” tambahku.

“Itu sekalian diambil buburnya. Dicicipi. Dimakan.”

Aku berusaha membersihkan diri dengan mengusap wajah dan kedua telapak tanganku dengan tisu yang terasa dingin. Mungkin tisu yang baru dibeli dari warung yang ber suhu AC rendah, sehingga begitu terasa seperti sebuah kain rendaman air es. Tapi entahlah. Aku hanya menebak-nebak.

Sambil mengikuti isyarat matanya, akupun mencoba mengambil mangkuk yang terletak di samping cermin rias.  Aku membuka tutup mangkuknya, dan mencicipi bubur yang kebalikannya, justru terasa masih hangat.

“Gimana, buburnya?”

“Masih hangat. Enak ko …”

“Sebentar sini aku coba cicipi lagi.”

Segera ia mematikan puntung rokoknya dan melemparkannya ke lorong luar, seraya menyergah ke araku. Mengambil mangkuknya dari tanganku dan langsung mencicipinya.

“Hemmm… Oke. Gak ada masalah. Tadi pas buat belum aku cicipi. Tapi ini tak keasinan dan tak hambar,” tuturnya. Sambil sedikit menahan bibirnya yang jadi basah sehabis menyuap bubur yang dibuatnya sendiri.

“Tapi gimana menurutmu rasanya? Suf?” Ia bertanya sekali lagi sambil menjatuhkan tepat tatapannya di depan mataku.

“… …”

“Kenapa diam saja?” Seakan benar-benar hawatir dan ingin meyakinkan.

“Aku makan, seperti apa yang kamu makan,” jawabku.

“… … …” [terdiam]

“… … …” [terdiam]

“… … …” [terdiam]

“Aku, Yusuf, memakan, seperti apa yang kamu makan,” jawabku sekali lagi.

Mendengar jawabanku yang sama kedua kali, entah mengapa ia langsung meletakkan mangkuk buburnya di atas lantai, dan menjatuhkan punggungnya ke tembok sambil melemparkan pandangannya entah ke atas mana.

Dalam beberapa menit kami pun hanya saling terdiam.

“… … …” [terdiam]

“Kamu kenapa?”

“Tidak. Tidak apa-apa… Suf.”

“Maaf kalau ada yang salah dengan kata-kataku,” tambahku dengan nada perlahan dan rasa bersalah.

“Tidak. Tidak apa-apa Suf.”

“Hmmm …”

“… … … …” [terdiam]

Entah baru saja apa yang aku lakukan. Kali ini aku yang merasa begitu hawatir jika aku telah berbuat sesuatu yang tak kusadari. Ini pasti ada yang salah, gumamku dalam hati. Tak mungkin tiba-tiba ia menjatuhkan mangkuknya tiba-tiba ke lantai meskipun ia menjatuhkannya tak sampai menumpahkan isinya.

“Hei … Kamu kenapa?”

“… … … …” [terdiam]

“… …”

“Kamu mengingatkanku pada seseorang.”

“… …”

“Baru kali ini aku dengar kata-kata itu lagi.”

“… …”

“Sudah lama. Dulu. Dulu sekali waktu aku masih kecil. Ayahku kadang mengatakan hal yang sama seperti itu sebelum makan sore. Maksudnya, malam karena sudah gelap. Jam delapan atau jam sembilan. Kadang hampir larut.”

“… …” Aku diam dan hanya mendengarkan.

“Tidak apa Suf. Tak ada masalah. Aku hanya saja teringat kenangan itu. Ayahku sering mengatakan kalau ‘ia makan yang sama seperti yang dimakan oleh kalian.’ Aku dan ibuku maksudnya. Padahal kami sama-sama tahu kalau ayah mengatakan hal seperti itu berarti ayah tak ikut makan sebab jatah makan hanya ada untuk kami berdua. Ayah tak ikut makan. Itu hanya untuk menghibur kami agar kami berdua dapat makan dengan tenang.”

“Hemm… Maaf sekali lagi.”

Ia tiba-tiba bangkit dari lamunannya. Dan kembali mengambil mangkuk bubur tadi dan menyerahkannya kepadaku.

“Sekarang kamu harus menghabiskannya, Suf. Baru setelah itu aku akan memaafkanmu.”

“Tapi sekarang, kamu juga harus ikut makan,” tuturku.

 Dengan sebuah kesepakatan, akhirnya kami pun memakannya bersama-sama.

“Oke. Baiklah.” Ia kembali menarik senyummnya.

Sebelum mengangkat suapan kedua, pada saat itu ia mengucapkan sebuah kalimat yang kemudian dapat aku mengikutinya bersama-sama. Sebuah kalimat yang pada hari itu seperti jadi pengganti doa. Kalimat-kalimat yang ternyata sama-sama kami hafal dan pertamakali menghubungkan kami berdua:

“Semua yang dari Tuhan, akan kembali kepada Tuhan. Semua yang asalnya bagi manusia, akan kembali datang dan bangkit untuk manusia. Kita memakan sepotong roti untuk mencicipi kehidupan, dan meminum segelas anggur untuk menyegarkan setiap tetes darah yang mengalir kepada kematian. Kita semua terlahir dalam suci, dimandikan di atas sebuah piala, kemudian kita belajar menyaksikan dan kini berjalan di atas dosa. Kita semua akan kembali ke sana, ke dalam kerajaan Tuhan, ke dalam keabadian selamanya. Amin… amin… amin…”

***

Aku tak tahu apakah di luar hari masih pagi, atau telah siang. Yang aku lihat, cahaya dari lorong kamar tak begitu terang, dan sumber pencahayaan itu pun nampaknya bukan dari sinar matahari, tetapi berasal dari sebuah lampu bohlam.

Tetapi, ah tak penting apakah hari itu masih pagi, siang, sore ataupun telah bergeser menjadi malam kembali. Sebab hari mungkin hanya seperti seorang pejalan yang telah berjalan begitu jauh, yang telah kelelahan dan tak lagi mau mendengar siapapun orang yang tengah berbisik-bisik di sekitarnya. Yang ia rasakan, mungkin hanya sebuah kekosongan. Ya, kekosongan untuk melanjutkan perjalannya yang entah akan berakhir di mana.

“Oya, Suf.”

“Ya …”

“Bolehkah aku bertanya?”

“Boleh,” jawabku.

“Kenapa kamu tak bertanya namaku? Kamu seperti tak berminat sekali bertanya mengenaiku. Bahkan hanya sebatas bertanya nama!”

Kali ini matanya seakan kembali hendak menerkam. Menerkam sesuatu: dari dalam diriku.

“Sudah ditampung, dibuatkan makanan, tak menyapa sama sekali. Tak sopan,“ tambahnya.

“Oya. Aku baru ingat. Semalam aku jatuh pingsan di lantai 7.”

“Ya! Dan aku yang kena batunya. Mesti membawamu hingga ke sini.”

“Sendiri?”

“Ke tempat persembunyianku!” Tekasnya.

“Hemmm.”

“Tak ada yang tahu tempatku ini Suf. Baru kamu saja. Termasuk Kang Uki,” tuturnya.

“Ohh… Kang Uki. Pantas saja.”

“Pantas saja? Memangnya kenapa?” Ia mengulurkan sendoknya dan memberi isyarat agar aku kembali menyuap buburnya.

“Kamu sudah kenal lama dengan Kang Uki?”

“Belum lama. Tapi aku sering melihatnya bersama kawanku sebelumnya.”

“… …”

“Dia orangnya baik. Dia kadang suka bagi-bagi duit. Kalau lagi hoki, katanya sambil mengipas-ngipaskan uang ke kawan-kawanku.”

“… …”

“Kenapa? Malah senyum-senyum.”

“Dia memang seperti itu. Aku tidak membantahnya.”

“Iya… Dia yang menyuruhku untuk membawamu pulang ke sini.”

Aku melihat raut wajahnya perlahan sekali lagi. Tak ada sama sekali rasa keberatan dan keterpakasaan ketika ia menyampaikan hal tersebut.

“Kalau begitu …”

“Kalau begitu apa?” Ia kembali menyergah, sebab aku tak juga melanjutkan kata-kataku.

“Mulai saat ini, aku akan menjadi pengawalmu.” Tuturku.

“Pengawal?”

“Iya, pengawal. Penjaga. Maksudnya menjadi malaikat yang akan selalu ada jika kamu membutuhkan.” Gurauku sambil sedikit menahan tawa kecil.

“Dasar! Aku tak butuh seorang pengawal.”

“Kamu pasti akan segera membutuhkannya.”

“Tidak. Lagian bagaimana kamu mau jadi penjagaku, kalau kamu saja seperti ini keadaannya?”

“Semua akan segera membaik.”

“Syukurlah kalau seperti itu. Semoga besok sudah baikan.”

“… …” [Amin… amin… amin]

“Tapi … Kenapa tiba-tiba kamu berfikirian mau jadi pengawalku?” Tambahnya.

“Karena sebenarnya Kang Uki sudah memilihkan kita untuk saling berkenalan.”

“Maksud kamu?”

“Ya, pasti dia punya alasan mengapa tak memberikan aku kepada yang lain, tetapi kepada kamu. Juga begitu sebaliknya.”

“Aku masih belum mengerti.” Ia kembali menaruh mangkuknya ke lantai.

“Nanti kamu akan mengerti. Yang .. uhk! Uhk! …

… jelas ini tidak akan jadi yang pertama aku berkunjung ke kamarmu i… uhkk!.”

“Habiskan dulu yang dimulut kalau mau bicara panjang.”

“Sebentar aku ambilkan air,” tambahnya.

“… …”

Mustahil langit berganti begitu cepat dari langit yang semalam. Semua yang goyah tak akan begitu saja kembali menjadi tegak hanya karena sebuah keajaiban. Namun, apakah ada keajaiban-keajaiban yang muncul tanpa hal yang sedikit bergeser begitu tiba-tiba dari keadaan sebelumnya? Aku masih terbatuk-batuk sambil memperhatikan dinding lorong yang sepi di depan sebuah pintu dan jendela. Sepi orang, sepi angin dan sepi dari apapun yang mudah segera menjadi sia-sia.

“Ini minum dulu.” Ia mengulurkan segelas air hangat yang harum yang ia ambil entah dari piala-piala yang mana. “Pelan-pelan saja minumnya. Masih agak panas,” peringatnya.

“Aku masih belum mengerti apa yang kamu katakan tadi. Maksudmu.”

“Iya. Kang Uki tak mungkin tanpa alasan menyaruhmu membawaku ke tempatmu. Tak mungkin dia menitipkanku begitu saja. Dengan kata lain, kamu orang yang dipilihnya.”

“Dipilih?”

“Sekarang aku tanya balik.”

“Apa?”

“Apa Kang Uki memberimu uang untuk membawaku ke sini?”

“Enggak. Memangnya kenapa?”

“Kamu tahu Kang Uki suka membagikan uang begitu saja. Tapi kenapa dia menyuruh kamu tanpa memberikan uang sepeserpun. Dan buktinya, kamu mau membawaku ke kamar ini. Kamar yang konon jadi tempat persembunyianmu. Menggantikan baju, membersihkan tubuhku, membuatkan bubur … terimakasih sebelumnya… Dan baru saja membuatkanku minuman rempah hangat. Menurutmu kenapa kamu mau melakukannya?”

“Entahlah. Aku hanya mengikuti kata hatiku saja semalam.”

“Lalu?”

“Kamu tersungkur tepat di depanku. Ketika aku bertanya pada orang-orang, Kang Uki datang menatapku, dan mengatakan kalau ‘Bawa saja lelaki itu ke tempatmu.’ Dia langsung menyuruh yang lain bubar dan membiarkan aku dengan tubuhmu yang penuh dengan bau minuman. Dia hanya meninggalkan namamu. Yusuf, berinya. Seperti itu. Lalu …”

“Apa kamu befikir orang yang tergeletak malam tadi, yang bernama Yusuf itu, aku, akan membayarmu? Untuk semua urusan itu?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Entahlah, Aku makin tak mengerti maksudmu. Aku membawamu, dan ya sekarang ini. Kamu di sini.”

“Lalu?”

“Lalu…?”

“Itu artinya, Kang Uki mau kita saling berkenalan.”

“Hemmmh… ”

“Kenapa?”

“Tak apa.” Ia menghela nafas kedua kalinya. Seakan menghela jiwa dalam-dalam hingga tenang. Hingga tak ada lagi tanya. Tak ada lagi sepi yang perlu menjawab.

“Tetapi jangankan saling berkenalan. Namaku saja sampai saat ini belum kamu menanyakannnya.”

“Mustahil…”

“Mustahil?”

“Ya, mustahil aku tak mengenalmu.”

“Kita tidak pernah bertemu. Aku baru bertemu denganmu semalam, dan itu pun tanpa sengaja. Aku baru mengetahui siapa namamu saat itu. Justru mustahil kamu mengetahui namaku tanpa aku sebutkan. Atau … jangan-jangan …?”

“Kenapa berhenti?”

“Atau jangan-jangan…?”

“Kemari. Medekatlah …”

“Mendekat?”

“Ya, mendekat.”

“Untuk?”

“Kemari, mendekatlah.”

Ia pun mendekat.

“Sudah…”

Close to me. Lebih dekat lagi.”

“Ini sudah dekat. Menyebalkan sekali!”

Aku menyibak selimutku. Beranjak sedikit dan mendekat lagi kepadanya. Mendekatkan pipi kiriku kepada pipi kirinya, sehingga sedekat tubuh dengan bayang-bayang, sedekat tubuh dengan jiwanya ketika berdiri di samping sebuah terang.

“Sekarang, bisikkan namamu. Ya, sekali saja sepanjang umur hidupmu kepada lelaki yang ada di sampingmu. Dan jangan biarkan seorang malaikat Tuhan pun mendengarnya.”


Manuskrip #BurungKafir   

Ig: @Shiny.ane el’poesya

Penulis Manuskrip 50.000 Ma’(w)ar, #sainsPuisi, buku Puisi #KotakCinta, manuskrip #BurungKafir dan cerpen Matahari Es …

[ … Musik terus berdentum. Suara hentakan beat semakin naik dan kencang. Seratus duapuluh delapan, seratus dua puluh sembilan, seratus tiga puluh beat per menit… Setiap pasangan makin tenggelam dalam pelukan demi pelukannya masing-masing, kecupan demi kecupan… Namun, ia tetap terduduk di sudut di luar lantai dansa, di samping round table sambil terus menghabiskan kaleng demi kaleng minumannya sendiri …

‘Nam, dooset daram… Be chessme man… gerye nade. Na, nemitoonam… Bedoone to… halam bade.

I’m so lonely, broken angelI’m so lonely listen to my heart …

One n’lonely, broken angel…Come n’save me, before I fall apart …] —#kekasihters(emb)unyi II; Broken Angels

_____________

Kurator : Shiny.ane elpoesya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here