“Shin.”

“Ya.”

“Dimana?”

“Taman.”

“Suropati?”

“Seno.”

“Udah siap-siap?”

“I’m not.”

“Why?”

“Nothing.”

“Emang Uchen belum sms lu?”

“Gak.”

***

Hidup memang tak pernah bisa ditebak. Semua bisa berubah begitu saja. Kita (Human), bahkan justru-sering, yang memutuskannya sendiri; untuk merusaknya. Semua hal-hal yang indah, yang pernah menjadi mimpi, pada akhirnya akan hancur sebelum semuanya benar-benar hancur. Dan kemudian kita sadar, betapa lemahnya kita di depan takdir. Tidak ada bedanya seperti bintang yang jatuh. Nampak indah dari kejauhan, bersinar, tapi panas dan dingin. Tanpa tujuan, sendiri, dalam kegelapan. Dan …

Oke. My name is Shiny. Meskipun tidak seburuk yang akan dikira, it’s my pieces memory. —

*5*5*5—?A.Y.

Semua dimulai dari sini …

Jakarta masih hujan kecil. Langit terasa sedikit merah, dan lampu-lampu kota: kuning redup, terlihat dingin, basah. Saat itu pukul 10 malam dan Aku. Tak ada apapun lagi, kecuali benda-benda yang sama asingnya berserakan di bahu jalan, di dalam air. Menuju arah yang sama; mengalir saja.

Ia memperkenalkan namanya dengan nama Carlin, tanpa huruf “O”. Jadi bukan Carolin, tapi Carlin, tambahnya. Tapi belakangan ketika kami semakin akrab, ia memberitahu nama aslinya, Tania. Dan setelah itu aku memanggilnya dengan nama aslinya. Itu permintaannya, seperti permintaan khusus kalau dia tidak sedang bersama teman-temannya yang lain. Ia nampaknya percaya dengan apa yang pernah dikatakan oleh Juliet kepada Romeo, “apalah arti sebuah nama?” Tapi bukan seperti difahami oleh orang pada umumnya bahwa jadi nama itu tidak ada artinya sama sekali, ia bermaksud ingin mengatakan kalau setiap nama selalu punya ceritanya sendiri, bahkan tak jarang punya kepribadiannya sendiri; dan ia ingin aku mengenalnya, dia dengan kepribadiannya sebagai Tania.

Carlin berhidung mancung, bermata tajam, warnanya lebih terang dari warna coklat pupil mata milikku. Bibirnya tipis, dagunya kecil, rahangnya kecil, cara ia menegakkan lehernya, membuatku mendekatinya. Rambutnya lurus hingga menyentuh punggungnya, dengan sebuah kepang dari belahan sebelah kiri melingkari seluruh bagian atas rambutnya. Kulitnya putih, tengkuknya berbulu, pundaknya mengerucut ke atas, lingkar lengannya kecil, pinggulnya ramping, tapi ia memiliki tubuh yang tidak kering. Dengan perawakan seperti itu, tingginya cukup ideal sebagai seorang lady remaja meskipun kurang dari 170 cm.

Ia sebenarnya kurang suka menggunakan high heels. Katanya, sering membuat tumitnya sakit. Ia sering mencuri-curi untuk melepaskan high heels-nya ketika jam-jam senggang di restroom untuk sekedar memijitnya satu-dua menit. Ia juga sebenarnya tak menyukai minum-minuman beralkohol. Ia sering menahan muntah jika menurutnya sudah minum di luar keinginannya. Ia bekerja di sebuah kafe yang masih terdapat di sekitar d’Bar di bilangan Kemang selatan. Tapi malam itu ia sedang mengambil cuti. Katanya, untuk mendapatkan cuti tersebut ia harus mengarang sebuah cerita bahwa ia akan cuti untuk menemani seseorang dan akan tinggal di luar kota selama 2 hari 2 malam. Tapi alih-alih iya pergi ke luar kota, malam itu aku bertemu dengannya di d’Bar. Katanya, sedang menenangkan diri.

Memang malam itu suasana di d’Bar tidak begitu ramai. Tidak ada event, tidak ada laser lampyang menembakkan cahayanya ke semua arah, sofa-sofa terlihat kosong, dan sepertinya hanya beberapa pengunjung yang menginginkan tempat yang tidak begitu ramai saja yang tetap bertahan bersama ketukan Classic House dan musik Country yang membuat suasana seolah-olah makin sentimentil.

Sambil setengah mabuk, ia berbagi banyak tentang hidupnya. “Sepertinya sedang ada masalah yang benar-benar menggangu fikirannya,” gumamku dalam hati. Katanya, ia memperjelas, bahwa ia mengambil cuti hanya karena sudah mulai merasa tidak nyaman untuk tetap kerja di kafe tersebut. Sebab belakangan semakin banyak ekspatriat yang datang untuk menghabiskan malam di sana dan menggodanya.

“You can look it at me Shiny: My eyes, my nose, my hair,” ia mencoba bercerita tentang ini lebih dalam. “Kamu pasti akan dengan gampang menebak, kalau aku tidak murni sepenuhnya Indonesia.” Ia kembali melanjutkan, bahwa di salah satu kafe di daerah sini, ada satu tempat di mana para ekspatriat berkumpul hanya untuk mencari pasangan kencan perempuan pribumi.

“Beberapa di antara mereka hingga memiliki anak sepertiku. Dan salah satu di antara mereka …”

Sesekali tangannya memainkan gelas yang dipegangnya. Seperti mengangkatnya, kemudian menjatuhkannya. Mengangkatnya lagi, dan menjatuhkannya lagi. Seperti itu.

Ia kesal, dan sepertinya traumatik. Aku tenggelam dalam pembicaraan yang semakin pribadi, sampai ia tak sadar dan kehabisan nafas. Meskipun malam itu aku hanya mendengarkan.

“Oke, Carlin. Mungkin kamu akan bisa sedikit lebih tenang dengan pilihan seperti itu.”

“Kamu tau artinya? Aku akan segera pindah tempat kerja!”

Di antara ambience musik progressif dan psydelic yang mulai masuk saling berdentuman teratur, yang artinya menunjukkan bahwa malam sudah semakin larut, ia meledak, dan aku: sunyi.

*5*5*5—?A.Y.

Pertemuan itu terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. Carlin. Ya, Carlin. Sebenarnya, nama aslinya adalah Carlin, Carlin Samya, bukan Tania. Tapi Tania pada akhirnya menjadi sebuah cerita baru dalam kehidupannya. Ia memulainya dari awal, di tempat kerjanya yang baru sebagai pelayan di sebuah kafe di daerah Gajah Mada.

“Kenapa kamu hanya diam? Bagaimana pendapatmu? Bagaimana kalau sekarang giliran kamu yang berbagi?” Tania mencoba mulai bertanya.

Sepertinya, dorongan dari alam bawah sadarnya sudah benar-benar membuatnya mulai kelelahan. Cerita yang ia ungkap tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Atau malah sebaliknya. Ia seperti sedang tersesat dalam satu ingatan dan ia tidak berniat untuk melanjutkan perjalanannya lebih dalam ke masa lalu.

“Tidak ada yang menarik untuk diceritakan,” aku mencoba menanggapi pertanyaan Tania.

Pada saat itu memang aku ingin mendengar seluruh sisi gelap dalam dirinya terbuka. Aku melihatnya seolah ikut bergerak di atas sebuah api kecil yang kunyalahkan: sudah lebih dari satu jam ia bicara ke sana ke mari, dan sudah satu botol Whisky yang ia minum. Kami menyulut rokok terakhir kami,

“Apakah hidupmu begitu membosankan?”

“Ya, dengan alasan yang sama itulah saya ada di tempat seperti ini lagi malam ini.”

“Hidupku awalnya menyenangkan, tapi seiring berjalannya waktu, samuanya jadi lebih menyenangkan kalau kita hanya bawa tidur.” tuturnya.

“Oya, sebenarnya aku dulu suka hujan. Saat aku masih kecil. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Semenjak hujan membuatku pucat sekujur badan,” tambahnya.

“Ya, sekarang memang sedang musim hujan.”

“Ah tapi itu masa-masa kecil yang menyenangkan. Tanpa beban. Bahkan ketika kita menangis. Menangis kencang bersama-sama.”

Carlin terus berbicara ke sana ke mari, aku tak berniat menghentikannya.

“Tapi saat ini berbeda. Semua seakan-akan berbalik. Bahkan kita bisa merasakan suara air mata kita, yang mengalir di dalam, ketika kita tertawa-tawa.”

“Seoalah ada diri kita yang lain dalam diri kita ini,” sahutku.

“Ya.. ternyata kamu pintar juga Shiny,” ia melemparkan senyumnya, “sepertinya aku mulai tertarik padamu.”

Aku tersenyum.

“Ups, maaf. itu tidak serius, aku sedang mabuk. Aku terbawa suasana. Aku terlalu bahagia ada seseorang yang mau menemaniku malam ini.”

“Tapi saat ini kamu tidak bisa menutupinya, lingkaran matamu begitu sembab Carlin.”

“Aku bisa menutupnya dengan kacamata hitamku,” Tania menunjukkan kacamata hitamnya, sekali lagi dengan bangga, “Seperti ini,” ia menarik bibirnya. Tersenyum.

“Kalau begitu sekarang aku benar-benar tidak bisa melihat mata indahmu Lady,”

“Hahahaha,” kami melepaskan isi kepala kami. Tertawa bersama. Aku menatapnya.

*5*5*5—?A.Y.

Aku masih menatapnya. Ia kembali menarik kacamata hitamnya yang katanya ia peroleh dari salah satu tamu yang sempat mengajaknya berjalan-jalan di sebuah mol di Jakarta pusat.

“Hai ..”

“Hai juga Lady,” balasku sama pelannya.

“Berhentilah menatapku seperti itu.”

“Aku yang memutuskan,” kataku.

Ia tersenyum.

“Oke,” matanya menggoda.

Aku tersenyum.

“Oya, bagaimana kalau kita cari tempat lain?” ajak Carlin.

“Di luar masih hujan.”

“Sepertinya aku mulai kedinginan.”

Tepi kelopak matanya memerah. Tangannya berkeringat ketika kuperhatikan, Aku coba memastikan, jika tiba-tiba suhu badannya benar-benar mulai turun,

“Mau tambah minuman lagi?”

“No.”

“Oke, kalau gitu bagaimana kalau kita duduk-duduk di lorong?”

d’Bar terletak di bagian dalam lantai dasar Piccadilly Suite. Kalau kita hendak masuk d’Bar, dari pintu depan kita akan melewati sebuah lorong sepanjang 20 meter yang dindingnya bergaya Gothic. Meskipun jika diperhatikan tak ada sama sekali lukisan atau karya seni yang digantung sehingga bisa mengingatkan gambaran kita secara langsung pada masa-masa Eropa abad pertengahan; hanya arsitektur dinding, pintu dan jendela-jendelanya yang terlihat “tua,” memantulkan satu dua lampu redup dari jendela kaca yang menembus lorong Valley.

Hanya setengah meter di depan pintu d’Bar, ada beberapa kursi dan dua buah round table terbuat dari kayu berwarna coklat, kami duduk di situ.

“Bagaimana?”

“Sepertinya di sini jauh lebih hangat,” akunya.

“Semoga suhu tubuhmu segera kembali normal.”

“Tidak apa-apa, mungkin karena aku sedang kelelahan.”

“Now, what about your story?” matanya balik menatapku. Mulai menggoda.

“Nothing.”

“Hei, tidak akan ada yang percaya ketika kamu memperkenalkan namamu dengan nama ‘Shiny,’ S-h-i-n-y,” ia mengejanya, dan menyebutnya kembali perlahan.

“Oh no, no no.”

“Lihat warna rambutmu, warna kulitmu, bentuk hidungmu .. hanya akan membuatku merasa bodoh kalau percaya begitu saja dengan namamu itu,” sepertinya Carlin mulai menunjukkan taringnya, ia tertawa lepas.

“Oke, oke barlywood eyes.”

“What?”

“B-A-R-L-Y-W-O-O-D E-Y-E-S. Bar-ly-wood-eyes,” ulangku mengikutinya.

“Sialan,” nampaknya kami sama-sama sadar, rokok kita habis, dan kami perlu membakar diri kami. Tak ada jalan lain.Tertawa. dan saling menggoda.

“Oke, mungkin itu akan menjadi nama yang bagus buatku,” Carlin memperlihatkan ekspresi wajah dan posisi duduk pura-pura berfikir.

“Nyonya B a r l y w o o d,” kami terlepas. Tetawa lagi.

“Hahahaha …”

“Oke, cukup Tuan Shiny. Jadi kapan kamu mau mulai bercerita?”

“Oya, mungkin kita bisa pesan makanan, kentang atau sesuatu di dalam.”

“Boleh, mungkin akan bisa membuat badanku sedikit lebih hangat.”

“Mau pesan air juga?”

“Boleh, pesan yang hangat juga. Tea.”

“Oke.” Aku langsung beranjak dari tempat dudukku menuju pintu d’Bar.

“Hei.. hei, Boy!” tiba-tiba Carlin menahan tanganku.

“Ada yang tertinggal?”

“Jangan kaburrr!!.. Hehe..”

Tangannya menarikku untuk kembali duduk. “Just sit down here.”

“Woww …”

“Jadi, sekarang jangan mengelak lagi.”

“Oke, oke.”

“Carlin, I think, you come form Heaven.”

“What?”

“Serious!”

“What the hell …”

“Shiny…”

“Yap.”

“Wanna I and you be a friend?” Carlin menopangkan pipi kanan dan kririnya nya di ke dua telapak tangannya. Menatapku.

“Oke,” kataku. Dia terseyum.

“Dia seorang gadis.”

“Ow ow, ini akan menarik Shiny.”

“Pfftt…” Tiba-tiba aku merasa seakan-akan dunia mau roboh.

“Lanjutkan. I see you.” Dia kembali tersenyum.

“Seperti kamu. Aku bertemu dengan dia di tempat seperti ini, 8 tahun yang lalu.”

Dia mengepalkan jari-jarinya dan mulai menghitung, “… Tahun 2005. Hemmm,” Carlin menghela nafas.

“Namanya Serafina, matanya sipit, keturunan Tionghoa. Dia memberi nama itu ketika aku mulai memikirkan untuk memiliki sebuah nama pena.”

“Oya? jadi kamu penulis?”

“Bukan, bukan. Maksudku aku hanya suka menulis, dan ingin saja memiliki sebuah nama pena untuk disisipkan di bawah setiap tulisanku waktu itu.”

“Jadi akhirnya kamu menggunakan nama itu.”

“Tidak. Sebelum dua tahun setelahnya.”

“Sebentar, sebantar. She’s your girlfriend?”

“Bukan, dia persis sama sepertimu. Kami bertemu, dan hanya jadi sering bertemu dan berbagi cerita. Aku tak pernah berfikir untuk punya pacar saat itu.”

“Kenapa?”

“Aku sudah menginginkan gadis lain di sekolahku, yang memiliki mata seperti mata orang Arab.”

“Ow, ow.. sepertinya akan ada kisah cinta segitiga.”

“Huuuhhff..”

“Lantas bagaimana kelanjutan cinta segitiga itu?”

“Tidak ada kisah cinta segitiga Carlin,”

“Tapi sepertinya Serafina, dia juga mencintaimu.” Carlin terus memangsaku tanpa ampun. Dia terus tersenyum lugu,“Hehe..”

Aku hanya bisa diam, dan pasrah.

“Oya, kita kembali ke topik pembicaraan kita. Kenapa kamu tidak menggunakan nama itu?”

“’SHINY,’ Itu terdengar seperti nama perempuan Carlin. Coba kamu dengar ini, ‘Shiny’, ‘Shinta’, ‘Sahne’, ‘Sahana’ ‘Sa…’ ah!”

“Tapi kamu menggunakannya sekarang. Bahkan memperkenalkan nama itu padaku tanpa ragu.”

“Dasar permpuan sadis,” gumamku dalam hati. Serasa benar-benar diterkam oleh seekor burung gagak yang sedang kelaparan sehabis lama menangis.

“Ya …” jawabku.

“So?”

“She’s die.”

“What?”

“Aku dapat kabar kalau dia meninggal.”

“Kamu pasti bercanda.”

“Saat ini, dia sudah tidak ada di dunia ini Carlin.”

“Maaf, aku hanya memastikan,”

“Tidak apa-apa.”

“Masih mau mendengarkan?”

“Em em..” iya, katanya.

“Pada satu malam aku tidak menemuinya di tempat biasa dia bekerja. Aku mendapatkan kabar tersebut dari salah satu temannya. Malam itu aku langsung pergi ke rumahnya, dan ternyata kabar itu benar. Ia sudah tidak masuk kerja selama 2 hari.”

“Semoga dia diterima di sisi Tuhan.”

“Amin.. Amin..”

“Amin..” Carlin mengikuti amin itu.

“Di malam pembakaran mayatnya, aku memutuskan untuk menggunakan nama itu. Tapi dengan penambahan dua suku kata di belakangnya. Agar tidak terdengar begitu perempuan.”

“Jadi kau menggunakan nama itu untuk mengenangnya?”

“Bisa dibilang begitu. Tapi sebenarnya ada alasan lain juga.”

“Apa itu?”

“Saat itu aku memang sedang ingin memulai satu kehidupan yang baru. Satu cerita yang baru dalam hidupku. Benar-benar mau meninggalkan hari-hari sebelumnya.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Satu minggu sebelum aku mendapatkan kabar pemakaman Serafina, aku kehilangan perempuan bermata Arab itu.”

“Maksudnya?”

“Aku sempat mencarinya, dan mencoba bertanya kepada teman-temannya di asrama. Kata mereka, ‘May,’ ya, nama perempuan bermata arab itu ‘May.’ Ia dipanggil pulang oleh orang tuanya dua minggu sebelumnya, dan ia pergi tanpa sama sekali memberiku kabar. Setelah satu tahun, aku mendapat kabar kalau dia menerima sebuah pinangan lelaki mapan untuk memenuhi permintaan ibunya yang sudah mulai sering sakit-sakitan.”

“Hemm.. Now, I’ve no question.”

“Tidak apa-apa.”

“Apa itu artinya kamu akan berhenti bercerita?”

Aku menatapnya dalam, dan memutuskan untuk tidak berniat menghentikannya.

“Tapi sebenarnya,” lanjutku, “dua hari sebelum May meninggalkan asramanya, ia sempat mengirimkan sebuah surat pendek untuk meminta bertemu denganku. Tapi aku mengabaikannya.”

“Ups, ini nyata?”

“Ya Carlin. Ini bukan kisah dalam sinetron, atau dalam drama-drama tragedi.”

“Maaf, aku sedikit terkejut medengarnya.”

“May, pergi. Dan aku menyesal karena setelah aku tahu, May ternyata ingin meminta sesuatu kepadaku. Dulu, ia pernah memintaku untuk memberinya sebuah ciuman paling pertama, tapi aku tak memberikannya karena pada saat itu aku masih benar-benar naif. Dan kali ini pasti permintaannya tidak ‘semain-main’ itu, tapi aku benar-benar mengabaikannya. Jadi dia pergi, tanpa kabar sama sekali.”

“Lalu?”

“Kondisiku saat itu menjadi tidak stabil, dan benar-benar tidak stabil selama berhari-hari. May pergi tanpa aku tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku jadi sentimentil dan emosional. Mudah marah dan..”

“Dan … ?”

Saat itu, aku berhenti melanjutkan cerita dalam beberapa detik. Suaraku tiba-tiba terasa tertahan,. Dan Carlin coba membantuku untuk mengatakan sesuatu.

“Dan … ?”

“Dan, saat itu aku hanya berfikir bahwa aku harus bertemu dengan Serafina untuk berbagi dan berkeluh kesah seperti biasanya. Tapi,”

“Tapi ternyata setelah kamu mencoba menemui Serafina, kamu justru mendapatkan kabar bahwa dia telah meninggal,” sambung Carolin.

“Ya, dia telah meninggal. Seperti yang sudah kuceritakan.”

“I’m sorry to hear that Shiny.”

“Thank you.”

Pembicaraan terhenti sesaat.

“Apa ada riwayat, maksudnya apa pernah …”

“Cancer.”

Kini pembicaraan benar-benar terhenti. Aku membuang pandangan ke arah lorong Valley. Carlin terus memperhatikanku, dan menunggu, entah apa. Aku tetap diam.

“Shiny, how old are you now?”

“Twenty one.”

“I’m Nineteen.”

“So, you still Virgin?”

Tiba-tiba suasana menegang. Mata Carlin menajam dan membidikkannya tepat segaris lurus dengan pandanganku ke arahnya. Gawat!

Tapi setelah menahannya, ia berbisik “F u c k m e B o y !”

Kami kembali tertawa lepas.

*5*5*5—?A.Y.

“Tapi Shin, sepertinya badanku memang benar-benar kedinginan,” keluhnya.

“Ya, I know.”

“Hemmph.”

“Lain kali pakai baju yang lebih tertutup,” aku mencoba menyarankan kepada Carlin. Atau memang dia harus membawa sebuah jaket jika hendak keluar malam.

“Thank you,” kami mencoba berbagi senyum.

“Sebentar lagi mungkin hujan akan mulai reda.”

“Kalau tidak kita akan keluar. Bisa sampai pagi di sini kalau hujan seperti ini terus.”

“Oke. Sepakat!” kataku.

“Oya,”

“Yap?”

“Aku boleh minta sesuatu?”

“Apa itu?”

“Give me Name.”

“What?”

“Sepertinya ide yang bagus kalau aku memiliki nama baru, untuk sebuah cerita yang baru.”

“Hei.. hei.. itu hanya ada dalam dongeng Carlin,” aku mencoba menggodanya.

“Shinyyyyyy,”

“Oke oke.. Hehe..”

“Aku harus mempunyai nama baru. Sama sepertimu.” Carlin mulai melemparkan pandangannya ke ke kanan dan ke kiri, seolah ia mulai masuk ke dunia yang diimpikannya. Aku terus memperhatikannya. Sambil terus tersenyum.

“Hei hei..”

“Apaaa?”

“Sudah dapat?” tanyaku.

“Belum..,” jawabnya dengan wajah lugu.

“Oke, ‘Tania’ .. gimana kalau ‘Tania’?

“Tania?”

“Tania Barlywood,” aku mennggodanya kembali. Kali ini sambil sedikit mengedip-ngedipkan mata.

“Hemmm…”

“Tidak bagus yaa? Hehe..”

“Thank you,” ia hanya mengatakan itu. Ia setuju. Ia seperti menunjukkan raut senang. Aku juga.

“Tania B a r l y w o o d, Tania Si mata coklat.”

“… …” Tania kembali diam. beberapa detik.

“Hei.. hei.. jangan menangis seperti itu.”

“Ok..ke!” katanya.

*5*5*5—?A.Y.

Malam itu, hampir pukul 4 a.m. Hujan panjang masih terus turun. Tapi akhirnya kami benar-benar memutuskan keluar dari Piccadilly Suite. Badannya terlihat masih kedinginan, dan mulai menggigil, Aku terpaksa menyebrang jalan untuk membeli sebungkus rokok dan beberapa makanan kecil. Nampaknya benar kalau Tania belum makan apapun semanjak 16 jam ke belakang. Daya tubuhnya mulai menurut akibathujan yang turun sepanjang hari dan 2 botol minuman beralkohol yang ia habiskan semalam.

Beberapa menit kemudian aku kembali, bibirnya masih gemetar.

Kami menyalakan rokok sekedarnya, sambil menunggu, dan berharap agar semuanya bisa segera tenang.

“Oya, setelah ini kamu pulang ke mana?”

“Kalibata,”

“Apartemen?”

“Ya. Kamu?”

“Aku tinggal di sekitar sini.”

“Tinggal bareng teman-teman kerja?”

“Ada beberapa orang tinggal di sana. Tapi mereka bukan teman-teman satu tempat kerja. Aku tak suka diganggu. Jadi mereka hanya teman-teman satu kos yang lebih sering saling acuh. Aku lebih suka seperti itu. Jadi aku memiliki privasi, dan ruang yang lebar untuk istirahat.”

“Apa tidak bosan seperti itu?”

“Tidak.”

“Bukannya perempuan zaman sekrang lebih suka menghabiskan waktu untuk sekedar berkumpul dengan teman-temannya?”

“Sesekali aku menginap di rumah salah satu teman kerjaku yang tinggal di sekitar Kemang Raya.”

“Kamu perlu lebih sering berkumpul dengan temanmu Tania.”

“Untuk apa?”

“Kamu bisa berbagi dengan mereka.”

“Boleh pinjam koreknya lagi?”

Malam itu, Tania memang benar-benar seperti sedang terpukul. Meskipun sesekali ia berhasil lepas dari kesedihannya, dan tertawa bersama, dalam beberapa menit fikirannya bisa tenganggu kembali oleh sesuatu dan emosinya segera berubah.

Mungkin masih ada sesuatu yang mengganjal tentang sekelompok ekspatriat yang mulai sering mendatangi tempatnya bekerja itu. Ada sesuatu yang belum aku tahu. Benar-benar belum Aku tahu, mengenainya.

“Sepertinya hujan mulai mereda, Tania.”

“Biarkan saja,” Tania menjawab dengan singkat sambil mengembalikan koreknya. Jari-jari tangannya pucat.

“Jadi kamu memang lebih suka menyendiri?” Aku menyambung pembicaraan.

“Untuk apa?”

“Untuk apa?” Aku mengembalikan pertanyaan tersebut.

“Untuk berbagi kepada mereka bahwa aku ini anak dari seorang yang tidak bertanggung jawab?”

“Maksudku ..”

“Biar semua orang tahu kalau aku ini anak dari si bajingan itu!”

“Ups, sorry.”

“Hidupku terlalu rumit. Dan bukan untuk dibagi kepada siapapun.”

“Maaf Tania. Aku minta maaf …”

“Aku cukup dengan menjalaninya.”

“Kamu pasti bisa menjalaninya. Sejauh ini pun kamu sudah menjalaninya.”

“Apakah kamu tidak berminat untuk bertukar nomor telfon?”

“Oh, oke. Sebentar. Kita hampir lupa.”

Aku langsung mengambil telepon genggamku, dan memberikannya kepada Tania untuk men­-Dial langsung nomor telfonnya. Tania seperti berhasil mengalihkan pembicaraannya. Hujan reda, semakin reda. Bintang menyala, bintang menyala, gerimis belum, aku terus menatapnya, “Tania,” gumamku dalam hati.

“Sudah.”

“Ya, Tania.”

“Sudah aku save nomernya.”

“Sudah di-misscall?”

“Sudah.”

“Sip!”

“Aku simpan dengan nama Tania. Tania BW.”

“Burlywood … gadis bermata Burly.” gumamku berbisik, sambil tersenyum.

“Kau bilang apa?”

“Rokokku mati.”

“Kan koreknya sudah aku kasih barusan.”

“Iya, aku lupa,” aku terseyum. Dalam hati. masih memperhatikannya.

Aku menjatuhkan rokokku yang masih menyala. Menginjaknya, menyalakan rokokku yang baru.

“Lalu, Shiny kamu sendiri?”

“Apa ada yang salah denganku?”

“Maksudku, kamu tinggal dengan teman-temanmu di sana?”

“Aku dengan satu temanku di Jasmin. Di Borneo ada tiga orang, dan dua kawan lagi di tower Ebony.”

“Jadi kamu tinggal bergerombol?”

“Aku sendiri hanya sesekali ke Jasmin. Lebih sering bermalam seperti ini. Teman-temanku memang sering berkumpul di salah satu tower. Kalau tidak di Ebony, di Jasmin. Malam ini mereka sedang berkumpul di Ebony. Aku di sana sebelum pergi ke sini semalam.”

“Sekarang hujan sudah berhenti, sudah waktunya kita pulang. Jadi bolehkah aku ikut ke tempat kamu?”

“Satu temanku, akan kembali ke Jasmin satu jam lagi. Aku tidak mungkin mengajak kamu kalau ada dia. Kamu pun pasti jadi tidak akan merasa nyaman.”

“Kalau gitu kamu yang ke tempatku.”

“Tania …”

“Please, stay with me …”

Bersambung …

____________

Penulis : Shiny.ane elpoesya
Kurator : Shiny.ane

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here