Tak Ada yang Abadi

1.

Saat aku berdiri di depan telaga, kutatap pecah riak, bersama pecahnya cahaya senja yang kian pudar dan menjadi hitam.

Ada bulan di atas daun pohon di pinggiran pantai.
Ia mulai dikurung oleh gelap.

2.

Kuukir nama di atas pasir yang basah. Sesaat ia terhapus, lagi-tertelan oleh jilatan samudra.

Lalu kulukiskan bayang di kaki bukit lewat jeritan
tangisku: tumbuh lah pohon-pohon. Namun semuanya
kembali sirna.

Di mana hati kan dapat berdiri?
bila semua musim seperti ini?

Cibodas, Mei, 2012

___________


Penulis : Shiny.ane el’poesya
Kurator : Shiny.ane

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here